TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA

BLOG PALING POPULER

Senin, 08 Juni 2026

Elagabalus, kaisar belia yg penuh kontroversi di era kepemimpinanya

Lahir dengan nama Varius Avitus Bassianus sekitar tahun 203 M di kota Emesa (kini Homs, Suriah), ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki hubungan dengan dinasti Severan. Sebelum menjadi kaisar, Elagabalus menjabat sebagai imam agung dewa matahari lokal EleGabal, sebuah posisi religius yang memberinya pengatuh besar di wilayahnya

Kenaikan Elagabalus ke takhta tidak terjadi secara kebetulan. Setelah pembunuhan Kaisar Caracalla pada tahun 217 M, kekuasaan jatuh ke tangan Macrinus. Namun, nenek Elagabalus yang ambisius, Julia Maesa, memanfaatkan ketidakpuasan tentara terhadap Macrinus. Ia menyebarkan klaim bahwa Elagabalus adalah putra tidak sah Caracalla dan karenanya pewaris sah takhta Romawi. Dukungan legiun di Suriah segera mengalir kepada remaja tersebut. Pada usia sekitar 14 tahun, Elagabalus diproklamasikan sebagai kaisar oleh pasukan Romawi. Setelah kemenangan pasukannya dalam Pertempuran Antiokhia pada tahun 218 M, Macrinus terbunuh dan Elagabalus resmi menjadi penguasa Kekaisaran Romawi.

Ketika tiba di Roma, Elagabalus mewarisi kekuasaan yang hampir tak terbatas. Sebagai kaisar, ia mengendalikan militer terbesar di dunia Barat, memimpin wilayah yang membentang dari Britania hingga Timur Tengah, dan memiliki otoritas tertinggi dalam pemerintahan maupun agama negara. Alih-alih mengikuti tradisi para pendahulunya, Elagabalus ternyata banyak menentang norma Romawi yang telah lama dihormati.

Salah satu langkah paling kontroversialnya adalah upaya menjadikan dewa matahari ElaGabal sebagai dewa utama Kekaisaran Romawi. Ia membangun kuil megah bernama Elagabalium di Roma dan memindahkan berbagai simbol keagamaan penting ke sana. Banyak senator dan rakyat Romawi menganggap tindakan ini sebagai penghinaan terhadap agama tradisional Romawi yang telah menjadi fondasi negara selama berabad-abad. Ketegangan semakin meningkat ketika Elagabalus secara terbuka menjalankan ritual keagamaan Timur yang dianggap asing dan tidak pantas oleh masyarakat Roma.

Sumber-sumber Romawi kuno, terutama karya sejarawan seperti Cassius Dio dan Herodian, menggambarkan Elagabalus sebagai penguasa yang gemar hidup dalam kemewahan ekstrem. Ia disebut mengadakan pesta-pesta besar, menghabiskan kekayaan negara untuk hiburan mewah, dan sering mengejutkan kaum aristokrat dengan perilaku yang dianggap tidak pantas bagi seorang kaisar. Namun, perlu dicatat bahwa sebagian besar catatan tersebut ditulis oleh anggota elite Romawi yang memusuhi Elagabalus, sehingga beberapa kisah paling sensasional mungkin telah dilebih-lebihkan atau dipengaruhi propaganda politik.

Meski demikian, hampir semua sumber sepakat bahwa pemerintahannya ditandai oleh ketidakstabilan. Para senator kehilangan pengaruh, pejabat tinggi sering diganti, dan banyak keputusan politik dipandang tidak konsisten. Kekuasaan yang begitu besar berada di tangan seorang remaja yang lebih tertarik pada kehidupan pribadi, upacara keagamaan, dan kemewahan istana dibandingkan administrasi negara. Akibatnya, dukungan dari pihak militer beserta elit politik yang sebelumnya mengangkatnya ke takhta mulai menghilang.

Pada akhirnya, keluarga Elagabalus sendiri menyadari bahwa pemerintahannya semakin tidak dapat dipertahankan. Neneknya, Julia Maesa, mulai mempromosikan sepupu Elagabalus yang lebih populer, Alexander Severus, sebagai calon pengganti. Ketika Elagabalus mencoba menghalangi rencana tersebut, Garda Praetoria berbalik melawannya. Pada tahun 222 M, saat baru berusia sekitar 18 tahun, Elagabalus dan ibunya dibunuh oleh para prajurit Praetoria di Roma. Jenazah mereka kemudian diperlakukan dengan penghinaan sebelum akhirnya dibuang

Masa pemerintahan Elagabalus hanya berlangsung sekitar empat tahun, tetapi namanya bertahan selama hampir dua milenium sebagai simbol kekuasaan yang jatuh ke tangan seseorang yang terlalu muda, terlalu kontroversial, dan terlalu jauh menentang norma masyarakat pada zamannya. Hingga hari ini, para sejarawan masih memperdebatkan mana kisah tentang dirinya yang benar-benar fakta dan mana yang merupakan propaganda yang sengaja dibesar-besarkan oleh musuh-musuh politiknya setelah kematiannya


Jumat, 22 Mei 2026

Pertempuran Danau Trasimene 217SM Kartago VS Romawi

Pertempuran Danau Trasimene: Kemenangan Hannibal Melawan Roma pada tahun 217 SM


Hannibal Barca, melakukan ekspedisi melintasi Pegunungan Alpen untuk menyerang  Italia yang fokus utamanya adalah melawan Republik Romawi di wilayahnya sendiri. dan Pertempuran Danau Trasimene adalah salah satu pertempuran besar dalam konflik ini.

Pertempuran ini terjadi pada tanggal 21 Juni 217 SM, di dekat Danau Trasimene di Italia tengah. Tentara Kartago, yang dipimpin oleh Hannibal Barca, dan kubu Republik Romawi, yang dipimpin oleh Konsul Gaius Flaminius

Pasukan Kartago

Hannibal memiliki pasukan sekitar 50.000 orang, termasuk infanteri, kavaleri, dan gajah perang. Tentara Kartago merupakan campuran dari berbagai etnis, termasuk orang Kartago, Libya, Numidia, dan Iberia

Legiun Romawi

Tentara Romawi dipimpin oleh Konsul Gaius Flaminius, yang memiliki kekuatan sekitar 30.000 orang. Tentara Romawi terdiri dari warga negara Romawi, pasukan sekutu, dan tentara bayaran. Infanteri Romawi diorganisir menjadi legiun, masing-masing terdiri dari sekitar 5.000 orang

Strategi berbasis Alamiah


Hannibal menempatkan pasukannya di perbukitan yang menghadap Danau Trasimene, dan ketika pasukan Romawi berbaris melalui celah sempit, mereka disergap dari segala arah. Pasukan Kartago telah menebang pohon untuk menghalangi jalan, dan pasukan Romawi terjebak di antara perbukitan dan danau. Akibat Strategi Hannibal ini,  Banyak dari mereka yang tenggelam di danau saat mencoba melarikan diri. Menurut sumber-sumber kuno, Romawi menderita sekitar 15.000-25.000 korban jiwa, termasuk komandan mereka, Konsul Gaius Flaminius. Di sisi lain, pasukan Kartago dilaporkan hanya kehilangan sekitar 2.500 orang.


Taktik dan Formasi

taktik dan formasi yang superior Hanibal menempatkan infanteri Afrika di tengah barisannya, dengan pasukan Spanyol dan Galia di sayap. Pasukan Kartago juga menggunakan taktik yang dikenal sebagai "pengepungan ganda," di mana mereka menyerang Romawi dari depan dan belakang.

Inovasi Militer

Hannibal memanfaatkan unsur kejutan dengan menyergap pasukan Romawi serta menyerang mereka dari belakang. Kemudian menggunakan pasukan Kavaleri untuk mengepung dan mencegah mereka melarikan diri.


Penggunaan gajah perang dalam pertempuran juga merupakan taktik menakutkan yang menciptakan teror dan ancaman ,Sehingga bangsa Romawi tidak mampu beradaptasi dengan perubahan medan perang.

Hal ini, memudahkan bangsa Kartago untuk menyerang dan mengalahkan mereka. Disini terlihat betapa pentingnya inovasi dan kemampuan beradaptasi dalam peperangan.

Bangsa Romawi merasa terpukul oleh kekalahan tersebut, dan banyak kota Romawi yang sebelumnya mendukung Roma membelot ke pihak Hannibal. Di sisi lain, bangsa Kartago merasa termotivasi oleh kemenangan mereka dan percaya bahwa mereka dapat memenangkan perang.


Kamis, 14 Mei 2026

Style Kepemimpinan jawa

Orang Jawa tidak merebut kekuasaan dengan suara keras. Mereka merebutnya dengan senyuman, kesabaran, dan kemampuan membaca situasi. Yang berteriak di depan, sering kali hanya pion. Yang diam di belakang, justru pengendali permainan.

Dalam tradisi Jawa, terlalu banyak bicara justru dianggap kelemahan. Karena mudah ditebak, mudah dijatuhkan.Yang paling berbahaya dari kekuasaan Jawa adalah kemampuannya membuat orang merasa dihormati sambil diam-diam dikendalikan. Semua terlihat tenang di permukaan, padahal di belakang penuh tarik-menarik kepentingan.

Banyak tokoh terlihat sederhana, kalem, bahkan religius, tetapi memiliki pengaruh politik sangat besar.  Citra rendah hati sering menjadi topeng paling efektif untuk mempertahankan dominasi. Bahasa sindiran, dan permainan citra menjadi senjata pamungkas dalam Konflik yang tidak selalu diselesaikan dengan benturan terbuka, melainkan dihancurkan perlahan, serta dibuat kehilangan pengaruh hingga tanpa sadar si musuh mulai kalah.

Budaya politik Jawa dibangun bukan sekadar soal jabatan, tapi soal pengaruh yang halus dan nyaris tak terlihat. Kekuasaan bukan dipamerkan. Kekuasaan disembunyikan agar tetap bertahan lama. Itulah sebabnya banyak orang gagal membaca realitas politik dan kehidupan sosial di Indonesia. Mereka melihat pidato, tetapi tidak melihat jaringan. Mereka melihat konflik, tetapi tidak melihat dalang yang menggerakkan semuanya dari belakang layar.

Kekuasaan di Jawa bukan hanya diwariskan lewat kemampuan, tapi lewat kedekatan, simbol legitimasi, dan kemampuan menjaga harmoni. Kadang orang yang paling kompeten justru tersingkir karena dianggap mengganggu keseimbangan.

Di titik ini, kita mulai sadar bahwa dunia tidak selalu berjalan berdasarkan logika meritokrasi. Ada budaya, simbol, dan permainan psikologis yang bekerja diam-diam membentuk siapa yang naik dan siapa yang disingkirkan.

Prinsip Peminpin sejati

Kepemimpinan dalam suatu negara adalah mutlak hukumnya. Tiada suatu wilayah atau teritori yg tegak dengan sendirinya, melainkan harus di selaraskan oleh seseorang ataupun kelompok yang peduli akan keberlangsungan kehidupan para penghuninya baik untuk jangka waktu panjang maupun untuk saat sekarang.

Jiwa kepemimpinan haruslah murni, dan tanpa pamrih dalam menegakkan semua prinsip-prinsip kebenaran. Seorang pemimpin haruslah:

  1. peka terhadap Aspirasi yang di suarakan oleh rakyat,

  2. Taat dengan aturan yang telah di buat Legislator dan para leluhur berdasarkan kesepakatan yg telah di sahkan

  3. Pandai membaca situasi baik yang tersirat melalui gejala Alam, ataupun yang tersurat yaitu berupa nasehat-nasehat orang bijak yang fokus dengan nilai dan makna dalam kehidupan secara mendalam

  4. Harus berani melepaskan ego dan kepalsuan diri demi menyuarakan semua kebenaran yang nyata dan di sepakati meskipun realitanya sangat pahit untuk di suarakan

  5. Tetaplah sayang akan diri beserta keluarganya supaya menjadi panutan di mata khalayak karena kita adalah simbol pengikat/persatuan yang kokoh dan tak terpisahkan

Dari kesemua yang telah di paparkan mungkin banyak hal yg perlu di tambahkan untuk konsep ini, Mengingat diri ini penuh dengan kekurangan dan kelalaian. Namun secara dasar mungkin hanya inilah yang saya pahami dan amalkan dalam kehidupan. Semoga curhatan yang singkat ini menjadi titik tolak menuju kemajuan baik untuk diri sendiri atau siapapun yang ingin mencoba memahami tentang Peminpin dan kepemimpinan.

Jumat, 20 Februari 2026

Perang Sungai Talas

Tahun 751 M di tepian Sungai Talas (wilayah yang kini masuk kawasan Kirgistan dan Kazakhstan ) dua kekuatan raksasa dunia kuno saling menatap dalam diam yang menegangkan. Satu sisi, Dinasti Tang—superpower Asia Timur, penguasa Jalur Sutra, simbol kemegahan Tiongkok abad ke-8. Di sisi lain, Kekhalifahan Abbasiyah—kekuatan baru dunia Islam yang sedang bangkit dan menaklukkan satu demi satu wilayah Asia Barat. Dan di tengah gurun berdebu itu, dua panglima besar membawa ambisi peradaban masing-masing.


SANG NAGA DARI TIMUR, Gao Xianzhi

Gao Xianzhi—atau dikenal juga sebagai Kao Hsien-chih—bukan jenderal biasa. Ia berdarah Korea (Goguryeo), tetapi karier militernya ditempa dalam barisan elite Dinasti Tang. Sebelum Talas, reputasinya sudah menggema. Ia sukses menundukkan kerajaan-kerajaan di Pamir dan Ferghana. serta mengamankan jalur perdagangan strategis demi memperluas pengaruh Tang jauh ke Asia Tengah.

Gao bukan hanya petarung. Ia ahli strategi ekspedisi jarak jauh. Menggerakkan ribuan pasukan melintasi pegunungan tinggi, gurun tandus, dan wilayah asing yang penuh intrik politik bukan perkara kecil. Pasukannya terdiri dari:

1.Tentara reguler Tang yang disiplin.
2.Kavaleri berat.
3. Sekutu Turki Karluk yang dikenal sebagai penunggang kuda tangguh.

Secara militer, Tang unggul dalam organisasi dan teknologi. Mereka membawa busur komposit, sistem logistik rapi, dan pengalaman tempur lintas medan. Namun, pertempuran kali ini bukan sekadar soal taktik di Medan pertempuran.  
Negosiasi dan lobby lah yang menjadi kunci suksesnya,  sehingga sejarah berubah arah sampai hari ini


SANG BULAN SABIT DARI BARAT, 
Abu Muslim Al-khurasani & Ziyad ibn Salih

Di kubu Abbasiyah, operasi militer berada di bawah komando Ziyad ibn Salih, sementara otak besar revolusi Abbasiyah adalah Abu Muslim Al Khurasani—arsitek kejatuhan Umayyah dan penguat dominasi Abbasiyah di Persia dan Asia Tengah. Pasukan Abbasiyah bukan pasukan sembarangan. Mereka terdiri dari:

1. Prajurit Arab berpengalaman perang gurun.
2. Tentara Persia yang ahli strategi dan administrasi.
3. Kavaleri cepat yang mematikan dalam manuver terbuka.

Kehebatan mereka terletak pada:
Mobilitas tinggi, Disiplin dalam formasi tempur, serta Adaptasi cepat terhadap taktik musuh.

Abu Muslim dikenal sebagai pemimpin karismatik sekaligus kejam dalam kalkulasi politik. Ia memahami bahwa Asia Tengah adalah kunci. Siapa menguasai wilayah itu—menguasai denyut ekonomi Jalur Sutra.


LIMA HARI YANG MENGUBAH PETA DUNIA

Pertempuran Talas berlangsung sekitar lima hari. Awalnya, kedua pasukan seimbang. Gao Xianzhi masih memegang kendali. Strateginya solid. Formasi Tang bertahan kuat. Lalu semuanya runtuh, Tatkala Sekutu Karluk—yang berada di pihak Tang—mendadak berbalik menyerang dari belakang, sehingga Pasukan Tang terjepit dari dua arah. Kavaleri Abbasiyah menekan dari depan. Karluk menghantam dari belakang.
akibat shock terapi ini, Gao Xianzhi terpaksa mundur dengan sisa pasukan yang tersisa. Ribuan tentaranya gugur dan sebagian menjadi tawanan abbasiyah

AKHIR EKSPANSI TANG DI BARAT

Kekalahan di Talas bukan cuma soal satu pertempuran. ini merupakan momentum titik balik geopolitik sehingga Ekspansi dinasti tang ke wilayah barat Asia terhenti.
yang kemudian secara Perlahan mengalihkan pengaruh Tiongkok di wilayah Asia Tengah menuju Dunia Islam yang pada saat ini, mulai menguat di kawasan tersebut.

Beberapa tahun kemudian, Dinasti Tang dihantam Pemberontakan An Lushan. Fokus mereka beralih ke dalam negeri. dan tak sempat untuk melanjutkan ekspansi balasan sehingga Asia Tengah pun perlahan masuk dalam orbit Islam.

SENJATA PALING BERBAHAYA: BUKAN PEDANG, TAPI KERTAS

Dari kekalahan dinasti tang lahirlah sebuah revolusi besar yang mempengaruhi dunia literasi hingga saat ini. sebuah Rahasia yang sangat Tabu untuk di sebarkan ke dunia luar, mengingat Rahasia ini adalah rahasia negara/kekaisaran Tang yg di tutup rapat selama bertahun-tahun dari dunia luar. yaitu teknik pembuatan kertas. orang yg mengetahui tentang hal ini, hanyalah birokrasi pemerintahan serta militer saja. rakyat kecil hanya boleh mempergunakan saja, dan dilarang membuat serta menirunya. dan pada waktu itu, Para tawanan perang dari Tiongkok di interogasi tentang semua informasi termasuk rahasia teknik pembuatan kertas.

akhirnya pihak Abbasiyah menindaklanjuti dan mempelajari dengan masiv. yang kemudian untuk pertama kalinya produksi masal kertas dilakukan. berawal dari daerah di Samarkand, kemudian teknologi itu menyebar ke Baghdad lalu ke Damaskus dan dari sinilah penyebar luasan hingga ke Benua Biru Eropa yg pada waktu itu, kekuatan Islam berbasis di Andalusia spanyol. 


TALAS: TRANFORMSI PENGETAHUAN YANG TERASA MANFAATNYA SAMPAI SEKARANG

Pada akhirnya sejarah berubah bukan karena siapa menang—tapi karena apa yang ikut terbawa dalam kekalahan.
Di pertempuranTalas, kita melihat bukan hanya benturan pedang. Kita melihat benturan visi peradaban. Tang membawa model kekaisaran Timur. Abbasiyah membawa dunia Islam yang kosmopolit.
Dan Asia Tengah menjadi panggungnya

Tanpa perang Talas, mungkin Tranfer ilmu pengetahuan lintas Benua tidaklah akan terwujud. Bayangkan: Tanpa teknologi kertas ini, perpustakaan Baghdad mungkin tak akan ada, sehingga ilmu pengetahuan yg kita pelajari di sekolah maupun di perguruan tinggi tak akan sampai hingga hari ini.

Hari ini mungkin jarang dibahas di buku sekolah. Tapi dampaknya terasa hingga sekarang bahwa:

1. Jalur Sutra berubah arah
2. Asia Tengah menjadi kawasan mayoritas Muslim.
3. Teknologi kertas menyulut revolusi literasi global.

Satu sungai, Lima hari pertempuran, Dua peradaban. hingga dunia tak pernah sama lagi untuk naik level menuju peradaban yang maju berkat inovasi dan Tranfer pengetahuan hingga ke abad ini.

Kamis, 18 Desember 2025

kota Babylonia kuno

Babilonia merupakan peradaban kuno yang sangat berpengaruh di Mesopotamia (sekarang Irak), menjadi pusat kekuatan politik, budaya, dan ilmiah selama hampir dua milenium (sekitar 2000 SM - 540 SM)
Dalam Alkitab Kristen dan Alkitab Ibrani Babilonia di kenal sebagai Babel, atau Negeri Babel yang berarti "kacau balau" atau berkecamuk. karena sering terjadi penyerangan dari wilayah sekitar seperti, kekaisaran Asyur dan kerajaan elam.

Sejarah Singkat
Babilonia Adalah negara yang berada di daerah Kawasan selatan Mesopotamia
(sekarang Irak dan Suriah)
Pada 1894 SM, tepatnya di era Kekaisaran Akkadia (2335–2154 SM) Babilonia hanyalah sebuah kota kecil yang menjadi wilayah administratif kekaisaran.
Babilonia ketika itu tunduk kepada Kekaisaran Akkadia, negara yang mempersatukan seluruh masyarakat penutur bahasa Akkadia dan bahasa Sumeria di bawah satu pemerintahan. 

Lokasi
Terletak di tepi Sungai Efrat, sekitar 100 km selatan Baghdad modern, di wilayah Mesopotamia. 

Periode: 
Berpengaruh dari sekitar 2000 SM hingga 540 SM, dengan masa kejayaan di bawah Raja Hammurabi (Babilonia Lama) dan kemudian Kekaisaran Babilonia Baru (Neo-Babilonia). 

Pencapaian & Warisan
- Hukum: 
Raja Hammurabi menciptakan salah satu sistem hukum tertulis paling awal dan terkenal, "Kode Hammurabi". 

- Ilmu Pengetahuan: 
Membuat kemajuan besar dalam astronomi (melacak planet), matematika (trigonometri), dan pengembangan sistem waktu. 


- Arsitektur: 
Dikenal dengan pembangunan megah, termasuk Ziggurat dan Taman Gantung Babilonia (salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno). 


- Bahasa: 
Bahasa Babilonia adalah Akkadia yang menjadi lingua franca di Timur Tengah. 
Kerajaan Babilonia melestarikan bahasa tulis Akkadia (bahasa masyarakat pribumi) untuk urusan-urusan resmi, meskipun raja-raja pendiri adalah orang-orang Amori penutur bahasa rumpun Semit. selain itu Kerajaan Babilonia juga melestarikan 
bahasa Sumeria untuk urusan-urusan keagamaan  

- Tokoh Penting
1. Raja Hammurabi: Membangun Babilonia menjadi kekuatan besar dan menyusun hukumnya. 

2. Raja Nebukadnezar II (Babilonia Baru): Memperluas kekaisaran dan membangun kembali kota Babilonia dengan kemegahan luar biasa, termasuk Gerbang Ishtar. 


Keruntuhan: 
Kejatuhan Babilonia Baru terjadi saat ditaklukkan oleh Kekaisaran Akhemeniyah (Persia) di bawah Koresh Agung pada tahun 539 SM, mengakhiri era kemerdekaannya.

Selasa, 07 Oktober 2025

Pertempuran legiun vs phalanx di Cynoscephalae (197SM)


latar belakang

Philip V raja makedonia (221-179 SM)   berusaha menjalin aliansi dengan Kartago. 
Ketika Hannibal mengalahkan pasukan Romawi di Italia. Pada tahun 202 SM,  kampanye yang di gencarkan Philip V di wilayah Thrace dan Asia Kecil (Turki barat laut) membawanya ke dalam konflik dengan Kerajaan Pergamon, sekutu Republik Romawi. sehingga melibatkan konflik langsung antara Republik Romawi dan Makedonia.


Pertempuran Cynoscephalae (latin) atau perang sinos sepala adalah pertempuran yang terjadi di perbukitan Cynos daerah Thessalia
pada 197 SM antara Republik Romawi yang dipimpin oleh konsul Titus Quinctius Flamininus, melawan Dinasti Antigonid
dari Makedonia, yang dipimpin oleh Filipos V. pertempuran ini adalah efek domino, dari perang antara Republik Romawi dan Republik Kartago Pimpinan Hanibal Barca. yang berujung pada bertemu langsungnya  para sekutu Republik Kartago dengan Romawi. para sekutu Kartago ini awalnya hanya memberikan dukungan, baik suplai makanan, maupun pasukan. namun setelah Makedonia secara terang-terangan mengusik wilayah Romawi, maka mereka harus siap menghadapi Kekuatan besar Republik Romawi.

Alur pertempuran

Ketika pasukan bergerak, terjadi hujan badai, dan pada pagi hari setelahnya muncul kabut di perbukiran dan ladang yang memisahkan perkemahan kedua pasukan. Namun, Filipos tetap melanjutkan pergerakan pasukannya, dan pasukannya menjadi bingung dan tak tentu arah akibat kabut yang tebal, Sehingga tak terasa itu pasukan phalanx Filipos telah mencapai puncak bukit. berada di tanah yang lebih tinggi daripada sayap kiri Romawi, dan pada awalnya sukses melawan mereka. Namun sayap kiri dan tengah Filipos, yang terdiri dari 8.000 phalanx, masih belum terorganisir dengan baik dan sedang berada dalam formasi bergerak, sehingga mereka belum membentuk formasi phalanx, dan ketika Flamininus mengerahkan gajah perangnya pada mereka, mereka pun mundur secara kacau-balau. salah satu tribunus Romawi berhasil memukul sayap kanan Makedonia dari arah belakang. Pasukan Makedonia tidak mampu mengubah formasi secepat formasi pasukan Romawi. Kini mereka dikelilingi dari kedua sayap oleh legiun Romawi. akhirnya pasukan Makedonia banyak yg gugur dan banyak pula yang melarikan diri. Setelah pengejaran yang singkat, Flamininus membiarkan Filipos kabur. Berdasarkan Polybius dan Livius, 5,000 tentara Makedonia terbunuh. dan menawan 1.0000 tentara yg hidup. sedangkan Romawi sendiri kehilangan sekitar 2.000 tentara.


Makedonia harus mengalami kerugian yang besar akibat kekalahan ini. Negara-negara yang dulunya berada di bawah kekuasaan Makedonia kini bisa merdeka, Filipos diharuskan membayar 1.000 talent perak pada Romawi, Makedonia harus membubarkan angkatan laut serta sebagian besar angkatan daratnya, dan putra Filipos dikirim ke Romawi sebagai sandera.

Kesimpulan

Kekalahan ini menunjukkan bahwa pasukan phalanx Makedonia, yang dulunya dikenal sebagai unit tempur paling efektif di dunia, ternyata terbukti bisa dikalahkann oleh legiun Romawi. Phalanx, meskipun kuat, tidak fleksibel dalam hal formasi seperti halnya manipulus Romawi.