Lahir dengan nama Varius Avitus Bassianus sekitar tahun 203 M di kota Emesa (kini Homs, Suriah), ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki hubungan dengan dinasti Severan. Sebelum menjadi kaisar, Elagabalus menjabat sebagai imam agung dewa matahari lokal EleGabal, sebuah posisi religius yang memberinya pengatuh besar di wilayahnya
Kenaikan Elagabalus ke takhta tidak terjadi secara kebetulan. Setelah pembunuhan Kaisar Caracalla pada tahun 217 M, kekuasaan jatuh ke tangan Macrinus. Namun, nenek Elagabalus yang ambisius, Julia Maesa, memanfaatkan ketidakpuasan tentara terhadap Macrinus. Ia menyebarkan klaim bahwa Elagabalus adalah putra tidak sah Caracalla dan karenanya pewaris sah takhta Romawi. Dukungan legiun di Suriah segera mengalir kepada remaja tersebut. Pada usia sekitar 14 tahun, Elagabalus diproklamasikan sebagai kaisar oleh pasukan Romawi. Setelah kemenangan pasukannya dalam Pertempuran Antiokhia pada tahun 218 M, Macrinus terbunuh dan Elagabalus resmi menjadi penguasa Kekaisaran Romawi.
Ketika tiba di Roma, Elagabalus mewarisi kekuasaan yang hampir tak terbatas. Sebagai kaisar, ia mengendalikan militer terbesar di dunia Barat, memimpin wilayah yang membentang dari Britania hingga Timur Tengah, dan memiliki otoritas tertinggi dalam pemerintahan maupun agama negara. Alih-alih mengikuti tradisi para pendahulunya, Elagabalus ternyata banyak menentang norma Romawi yang telah lama dihormati.
Salah satu langkah paling kontroversialnya adalah upaya menjadikan dewa matahari ElaGabal sebagai dewa utama Kekaisaran Romawi. Ia membangun kuil megah bernama Elagabalium di Roma dan memindahkan berbagai simbol keagamaan penting ke sana. Banyak senator dan rakyat Romawi menganggap tindakan ini sebagai penghinaan terhadap agama tradisional Romawi yang telah menjadi fondasi negara selama berabad-abad. Ketegangan semakin meningkat ketika Elagabalus secara terbuka menjalankan ritual keagamaan Timur yang dianggap asing dan tidak pantas oleh masyarakat Roma.
Sumber-sumber Romawi kuno, terutama karya sejarawan seperti Cassius Dio dan Herodian, menggambarkan Elagabalus sebagai penguasa yang gemar hidup dalam kemewahan ekstrem. Ia disebut mengadakan pesta-pesta besar, menghabiskan kekayaan negara untuk hiburan mewah, dan sering mengejutkan kaum aristokrat dengan perilaku yang dianggap tidak pantas bagi seorang kaisar. Namun, perlu dicatat bahwa sebagian besar catatan tersebut ditulis oleh anggota elite Romawi yang memusuhi Elagabalus, sehingga beberapa kisah paling sensasional mungkin telah dilebih-lebihkan atau dipengaruhi propaganda politik.
Meski demikian, hampir semua sumber sepakat bahwa pemerintahannya ditandai oleh ketidakstabilan. Para senator kehilangan pengaruh, pejabat tinggi sering diganti, dan banyak keputusan politik dipandang tidak konsisten. Kekuasaan yang begitu besar berada di tangan seorang remaja yang lebih tertarik pada kehidupan pribadi, upacara keagamaan, dan kemewahan istana dibandingkan administrasi negara. Akibatnya, dukungan dari pihak militer beserta elit politik yang sebelumnya mengangkatnya ke takhta mulai menghilang.
Pada akhirnya, keluarga Elagabalus sendiri menyadari bahwa pemerintahannya semakin tidak dapat dipertahankan. Neneknya, Julia Maesa, mulai mempromosikan sepupu Elagabalus yang lebih populer, Alexander Severus, sebagai calon pengganti. Ketika Elagabalus mencoba menghalangi rencana tersebut, Garda Praetoria berbalik melawannya. Pada tahun 222 M, saat baru berusia sekitar 18 tahun, Elagabalus dan ibunya dibunuh oleh para prajurit Praetoria di Roma. Jenazah mereka kemudian diperlakukan dengan penghinaan sebelum akhirnya dibuang
Masa pemerintahan Elagabalus hanya berlangsung sekitar empat tahun, tetapi namanya bertahan selama hampir dua milenium sebagai simbol kekuasaan yang jatuh ke tangan seseorang yang terlalu muda, terlalu kontroversial, dan terlalu jauh menentang norma masyarakat pada zamannya. Hingga hari ini, para sejarawan masih memperdebatkan mana kisah tentang dirinya yang benar-benar fakta dan mana yang merupakan propaganda yang sengaja dibesar-besarkan oleh musuh-musuh politiknya setelah kematiannya